Berita Birokrasi Berita Terbaru OLAHRAGA

Komisi D, Perihatin Minimnya Anggaran Penyiapan Atlet Porprov

Sutikno, Ketua KONI Jember (Baju hitam)

Jember – Soal sepi nya gaung Porprov VII Jember, memantik pertanyaan banyak kalangan, mulai tokoh masyarakat, pegiat olahraga, wali atlet hingga anggota DPRD Jember. Hari Kamis, 9 Maret 2022 Komisi D, DPRD Jember memanggil Dinas Pemuda dan Olahraga dan KONI Jember untuk menanyakan sejauh mana KONI dan Dinas Pemuda dan Olahraga dalam menyiapkan atlet-atlet yang diproyeksikan ke Porprov VII bulan Juni mendatang.

Dari paparan Dinas Pemuda dan Olahraga, juga ketua KONI Jember Sutikno, anggota komisi D dari partai Gerindra, Ardi Pujo Wibowo, mencecar berbagai persoalan terkait penyiapan atlet dan anggarannya. Ardi menyinggung minimnya anggaran penyiapan atlet yang hanya kuran dari 3 M, berbanding terbalik dengan anggaran ceremonial yang mencapai 2 milyar. Ardi minta KONI bisa menjelaskan bagaimana penyiapan atletnya selama ini.

Ardi Pujo Wibowo, Anggota komisi D,(tengah, kacamata) menanyakan kesiapan KONI jelang Porprov VII

Menjawab pertanyaan legislator Partai Gerindra tersebut, Sutikno sempat dibuat kelabakan, walau pada akhirnya, mantan ketua Askab Jember tersebut menjelaskan secara normatif tugas KONI, dan semua itu tidak bisa lepas dari anggaran. Untuk itu dia berharap agar pemerintah bisa segera mencairkan anggaran tersebut dalam minggu ini. Sementara Prof Sutriono, yang ditunjuk ketua KONI untuk menjelaskan secara rinci menyampaikan kalau KONI sudah melakukan proses sesuai tahapan, mulai seleksi hingga pemetaan cabor dan atletnya.

Sutriono juga menjelaskan tentang ada nya 36 cabor, 10 cabor diantaranya masuk cabor unggulan, sementara non unggulan ada 26.
Untuk penentuan dimasukkan menjadi cabor unggulan, Sutriono mengatakan kalau itu didasarkan dari prestasi cabor di saat Porprov ke VII yang lalu, plus hasil evalusi pasca Porprov, termasuk prestasi akhir atlet-atlet cabor di event-event berikutnya. Namun demikian, ada yang berbeda yakni untuk PSSI ini menjadi wajib unggulan, mengingat animo masyarakat Jember begitu besar terhadap sepak bola.

Ditempat terpisah, pengurus cabor yang tidak masuk unggulan, menanggapi keputusan KONI terkait cabor unggulan cukup beragam, ada yang menilai itu wajar ada juga yang menanyakan keseriusan KONI untuk mengevaluasi cabor mana yang justru banyak raih prestasi pasca porprov, selain ada atlet baru potensial, juga kematangan masing masing atlet.

“Harusnya KONI lebih transparan dalam menentukan cabor unggulan, dengan memperhatikan prestasi yang dicapai pasca Porprov ke VII lalu, karena ada cabor yang dapat medali di Porprov ke VII namun stagnan prestasi pasca Porprov, namun sebaliknya bisa kita lihat ada cabor yang saat Porprov VII tidak memperoleh medali, namun setelah itu tak sedikit prestasi yang diraih, dan semua hasilnya sudah dilaporkan baik ke KONI maupun ke Dispora sebagai catatan prestasi, namun toh tidak masuk unggulan juga.

“Saya pikir sudah saat nya KONI lebih transparan dalam melakukan evaluasi, dengan mengundang semua ketua cabor, mereka juga harus menunjukkan prestasi yang didapat selama dua tahun terakhir, agar menjadi pertimbangan, nah kalau tidak gimana KONI mendapatkan data untuk refrensi memutuskan unggulan tidaknya cabor” sesal nya.

Saat disinggung kenapa tidak menanyakan ke pengurus, dengan cepat mereka bersamaan mengatakan “Sudah pak, apa perlu saya tunjukkan bukti buktinya, tapi toh mereka gak respon juga ” tegasnya. (Arya)

Bagikan Ke: