
Fakta Jember – Kisah Ainur Rohmah, wrga Desa Ajung, Kecamatan Ajung Kabupaten Jember, Jawa Timur, menggambarkan stunting tidak selalu karena kurangnya asupan.
Perempuan ini tidak tahu apa penyebab anaknya mengalami stunting. Perhatian sepenuhnya diberikan. Kunjungan ke Posyandu rutin dilakukan. Saran-saran bidan pun dilakukan.
“Saya tidak tahu kenapa,” ujar Ainur Rohmah, Senin (13/7/2026).
Resah pun menyelimuti perasaannya. Hingga pemeriksaan dokter menyebut buah hatinya, Haula Nataya, terkena TBC.
Mulai itu, ibu muda ini tak pernah lepas untuk rutin memberikan obat dari rumah sakit. Kondisi anaknya ini, yang belakangan diketahui, diduga sebagai penyebab gangguan pertumbuhan.
“Ya memang sempat kena stunting. Tapi alhamdulillah sekarang sudah ada perkembangan,” tuturnya.
Ainur Rohmah mengatakan anaknya yang kini berusia 2,5 tahun mengalami penambahan berat hanya 0,5 – 1 ons, meski makanan dengan kecukupan gizi diberikan. Kurang dari minimal 2 ons.
Setelah enam bulan pengobatan, TBC anaknya dinyatakan negatif. Sembuh. “Berat badannya tambah empat sampai lima ons, setengah kilogram,” jelasnya.
Siti Mutmainnah, Kader Posyandu setempat, menjelaskan perkembangan Nataya cukup menggembirakan. Penimbangan terakhir ada kenaikan empat ons.
“Setiap bulannya pasti kami pantau. Kami berikan makanan tambahan. Kalau tidak hadir ke Posyandu, kami datangi ke rumahnya,” terang Siti.
Berbeda dengan Nataya, ada satu anak dari sembilan anak yang terpantau mengalami stunting. Sambil menyebutkan nama anak itu, Siti menjelaskan anaknitu masuk kategori Sangat Kurang dalam penambahan berat badan.
Siti menyebut anak tersebut bahkan sudah akan berusia genap lima tahun. Usia di luar pantauan Posyandu. “Kalau lebih lima tahun, saya tidak tahu siapa yang memantau. Mungkin sekolahnya,” ujarnya.
Kepala Puskesmas Ajung Nur Rakhman Ahadi menjelaskan pemantauan kondisi anak dilakukan melalui Posyandu oleh kader dan bidan.
Setiap ibu hamil dan bakita mendapatkan satu buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak). Buku ini menjadi sarana pemantauan sekaligus pengetahuan untuk tumbuh kembang anak.
“Buku KIA itu buku yang sangat luar biasa, yang disusun oleh para ahli. Hanya saja, belum terbiasa membuka buku itu,” kata Nur Rakhman.
Buku ini menjelaskan mulai dari ibu hamil hingga anak usia lima tahun. “Ini yang perlu disosialisasikan, pentingnya buku KIA untuk dijadikan pedoman mengatasi stunting,” tegasnya. (*)
Reporter: Achmad Syaifuddin
Editor: Achmad Syaifuddin

