
Jember – Belajar karate, tidak saja di ajarkan bela diri, namun ditanamkan pembangunan karakter, tata hormat (sopan santun) bagi seluruh kohai, khususnya di Federasi Karate Tradisional Indonesia.
Federasi Karate Tradisional Indonesia (FKTI) sebagai wadah pembinaan dan pengembangan karate, berusaha menjaga kemurnian seni pertarungan.
Bunga Rahma Wijayana, karateka putri asal Dojo Kim Bushido, Slawi, kabupaten Tegal, Jawa Tengah merupakan salah satu kohai yang konsisten berlatih dan punya komitmen untuk tetap berada di karate tradisional. Hasilnya, setelah melalui proses panjang, dia mampu menunjukkan prestasinya.

Bunga, putri pertama pasangan bapak Rokhmat dan Ibu Lili Suryana, kepada media ini, Jumat, 26/6/26 mengaku belajar karate sejak usia 12 tahun. Di bawah bimbingan sensei Arif Rahman hakim, gadis yang bercita-cita menjadi aparatur negara di kementrian KKP tak kenal lelah, mengabaikan rasa sakit di seluruh tubuhnya, hingga menuai hasil yang membanggakan FKTI kabupaten Tegal pada umumnya dan Dojo Kim Bushido khususnya.
Baca Juga : Siti Aenun Najah, Karateka Kim Bushido Tegal Raih Juara II Nasional Sabeth Muksin
Bunga tak ingin melewatkan perjuangan kerasnya selama ini dengan hanya berlatih seadanya, gadis berwajah manis ini terus berlatih keras, mengikuti kejuaraan mulai tingkat Dojo, tingkat kabupaten, Provinsi hingga mampu tembus di tingkat nasional. Sikap disiplin dan konsisten nya mulai menampakkan hasil.
“Bagi saya karate bukan hanya olahraga beladiri atau ajang mengejar prestasi saja, namun di sini karakter terbentuk, mental pantang menyerah dan belajar bermanfaat bagi orang lain” ujarnya, sambil tersenyum.
Dia juga menegaskan tentang cita citanya untuk menjadi bagian dari aparatur negara di kementrian KKP, dengan mendedikasikan ilmu dan prinsip yang dimiliki, bisa memberi kontribusi positif untuk masyarakat.
“Sejak kecil saya ingin jadi aparatur pemerintah di kementrian KKP, saya ingin berkontribusi positif dan bisa bermanfaat untuk masyarakat” tegasnya. (bis)

